Andalusia, Menara Ilmu dan Pusat Peradaban Islam di Barat

AndalusiaEntrancePic_06May16-Large-1

            Sejarah menyebutkan ada 3 jembatan yang menghubungkan nilai-nilai serta peradaban Islam ke barat. 3 ma’bar itu adalah Pulau Sisilia, Perang Salib dan Andalusia. setelah kita mengetahui Pulau Sisilia berserta semua cerita yang pernah ada di dalamnya dari peradaban Islam, kemudian bagaimana Perang salib menjadi sarana untuk men-transformasi berbagai hal yang berkenaan dengan nilai-nilai Islam dan budaya Timur tengah ke dataran Eropa, maka kali ini kita akan sedikit berbicara tentang sebuah tempat yang mempunyai peranan penting sehingga Islam tersebar syi’arnya dan peradabannya banyak ditemukan di belahan dunia bagian barat.

            Andalusia merupakan sebuah kawasan di semenanjung Iberia yang terletak di ujung barat daya Eropa sekarang menjadi bagian dari negara Spanyol, Portugal, Andorra, Gibraltar, dan sedikit Perancis. Disebut Andalusia karena pada saat itu segerombolan tentara Islam yang mengadakan ekspansi militer dari Maghrib (Maroko) menyebrangi selat Gibraltar dibawah komandan perang Thariq bin Ziyad singgah disalah satu tempat untuk pertama kalinya di tanah Andalusia, maka dari itu seluruh dataran yang berada disekitarnya dinamakan Andalusia. Penaklukkan Andalusia untuk pertama kalinya dilakukan pada masa pemerintahan dinasti bani Umayyah pada zaman khalifah Al-Walid bin Abdul Malik yang menunjuk Musa bin Nushair sebagai gubernurnya. setelah ekspansi militer yang dikomandoi oleh Thariq bin Ziyad masuk kemudian datang pasukan susulan yang dipimpin langsung oleh sang gubernur Maghrib Musa bin Nushair sehingga penaklukan Andalusia selesai pada tahun 96 dengan menguasai 2 kota terkenal yaitu Cordoba dan Thulaitila.

            Sejarah Islam di Andalusia memang bukan isapan jempol belaka. bukti nyata dan fakta banyak berbicara bahwa pemerintahan Islam telah menguasai Andalusia selama kurang lebih 8 kurun paska ekspansi awal tahun 92 H, kemudian dinasti bani Umayyah di Andalus yang dipelopori kembali oleh Abdurrahman Ad-Dakhil tahun 136 hingga tahun 416 H, disusul dengan zaman muluk thawaif, daulatul murabhitin, daulatul muwahhidin, hingga akhirnya jatuh kembali ke tangan kekuasaan kaum Nashrani yang melakukan pengusiran kaum muslimin dari tanah Spanyol pada tahun 897 Hijriyah.

            Delapan abad bukanlah waktu yang singkat, melainkan selama itu pula semua nilai-nilai dan peradaban islam berpindah ke tanah Andalusia. pembangunan sarana dan pra sarana yang sangat meningkat dan signifikan menjadi ikon khusus di Andalusia terutama di kota Cordoba. Sebagian para pelancong muslim yang sering melakukan travelling  menyebutkan ada 1.600 mesjid di Cordoba dan ada sekitan 600 hammam (kolam tempat pemandian) dan jalan-jalan yang sudah dipenuhi oleh lampu yang senantiasa menyinari di malam hari. begitupun dengan sekolah-sekolah yang mengajarkan menulis dengan khat arab hingga ada 170 para pelajar perempuan yang menulis Al-Qur’an dengan khat kufi menggunakan tangannya sendiri.

            Andalusia pada masa itu menjadi pusat dan kiblat dalam berbagai macam ilmu pengetahuan dan sains. layaknya yunani pada masa puncak kejayaannya yang memiliki beberapa ilmuan seperti Socrates, Aristotel dan Plato. pun demikian yang terjadi di Andalusia pada masa kejayaan Islam menjadi pusat keilmuan di Eropa. Maka ada dua jalan yang menjadi media berpindahnya peradaban Islam ke Eropa melalui jalur Andalusia. secara garis besar dua faktor itu adalah Ba’atsaat Ilmiyyah (pengiriman pelajar) antara pelajar Eropa dengan kaum muslimin di Andalusia dan Al-Musta’ribun.

  1. Pengiriman Pelajar.

     Para pelajar dari Eropa yang dikirim ke Andalusia ketika itu memiliki beberapa corak karena beberapa pihak dengan background masing-masing yang memberikan dukungan untuk menimba ilmu di Andalusia seperti pertukaran pelajar secara resmi yang dikelola oleh pemerintah Prancis yang langsung dipimping oleh Ratu Elizabeth keponakan Luis VI raja Prancis. Pengiriman pelajar ke Andalusia juga dilakukan oleh raja Inggris George II dengan mengirimkan putri-putri terhormat kerajaan yang beranggotakan 18 orang. tak hanya dibatasi oleh golongan ningrat para konglomerat dan orang-orang kaya di Eropa juga mengirimkan anak-anaknya untuk menimba ilmu di Andalusia dan hal ini menunjukkan bahwa Andalusia pada saat itu benar-benar menjadi kiblat berbagai macam Ilmu pengetahuan dan sains di barat.

  1. Musta’ribun.

     Musta’ribun adalah sebutan untuk para penduduk asli Andalusia yang masih tetap memeluk agama dan kepercayaannya namun sangat mengagumi budaya arab dan mempelajari bahasa arab secara mendalam. Golongan ini memiliki perang yang sangat penting dalam mentransformasikan nilai-nilai serta budaya Islam karena mereka menguasa dua bahasa sekaligus yaitu bahasa Arab dan bahasa Latin, mereka lah yang sering menyebarkan semua yang ada pada Islam ke daerah utara Spanyol dan Eropa lainnya.

          Maka seyogyanya kita mengembalikan lagi masa kejayaan Islam yang pernah ada dahulu yang kemudian bisa dijadikan rujukan dalam segala hal terutama ilmu pengetahuan, semoga dengan ulasan singkat ini bisa memotivasi kita lagi untuk berbuat dan bekerja seperti para pendahulu kita.

Disarikan dari ceramah singkat Dr. Abdurrahman Hammad, Dosen Bi’tsah Azhariyyah di Universitas Islam Internasional Islamabad.

 

 

MENYELARASKAN ANTARA CITA-CITA DAN CINTA, APA BISA?

study vs love

            Semua orang pasti punya cita-cita yang tinggi sedari ia kecil. ingin menjadi dokter, ingin menjadi tentara, menjadi guru, ingin menjadi pilot, bahkan ingin menjadi presiden sekalipun. Di saat yang sama seseorang juga pasti ingin mendapatkan cinta seseorang yang ia mimpikan, meminang seseorang yang ia sayang, kagumi dan ia damba-dambakan. Cinta merupakan anugerah dari sang maha kuasa, yang dititipkan kepada setiap insan manusia, baik pria ataupun wanita, anak muda, orang tua, bahkan yang sudah lanjut usiapun masih banyak yang merasakan cinta dan hangatnya kasih sayang dari orang-orang yang ada disekelilingnya.

            Banyak orang yang beranggapan dan berfikir bahwa cita-cita dan cinta itu adalah dua hal yang saling berbenturan dan bertolak belakang. lantas salah satu diantara keduanya harus ada yang dimenangkan dan ada pula yang dikorbankan. karena menurutnya cita-cita yang sudah ditargetkan, dipetakan dan disusun strategi untuk menggapainya harus dikerjakan dengan maksimal, totalitas, penuh kesungguhan, fokus serta tidak melirik ke kanan dan ke kiri. Lantas apa iya cinta itu menjadi penghalang dan menghalang-halangi, sehingga tidak tergapainya cita-cita? apa cinta itu menjadi virus, hama dan bakteri yang bisa menghancurkan semua cita-cita yang ingin diraih di masa yang akan datang kelak?

            Jawabannya adalah IYA dan TIDAK! apa maksudnya? itu artinya iya cinta itu bisa menjadi salah satu penyebab atau faktor sehingga terhalang dan tidak tercapainya tujuan dan cita-cita seseorang. Kok bisa? karena fokus dan tujuan seseorang yang sebelumnya telah berada dalam koridor konsistensi dalam mengejar mimpi dan angan-angan menjadi goyah karena kehadiran seseorang ke dalam dirinya sehingga merubah orientasi awal sebagaimana yang telah ia rancang untuk menggapai ini, itu dan sebagainya. Sedikit contoh kita sebut saja cita-cita itu adalah wisuda sarjana di salah satu jenjang perguruan tinggi. Si fulan ingin menempuh studinya hingga jenjang master atau doctoral, maka otomatis dia harus fokus untuk meraih apa yang ia targetkan, tanpa menghiraukan apa-apa yang ada disekelilingnya terutama masalah cinta, karena biasanya setelah ia mendapatkan hak dari cintanya maka ia harus lebih mengedepankan semua yang menjadi tanggung jawab kewajibannya untuk menafkahi sang istri dan keluarga setelah menikah. oleh karena itu waktunya akan lebih banyak dihabiskan untuk hal rumah tangga dan secara tidak disadari ia telah membunuh cita-cita dan idealisme yang telah ia bina semasa lajangnya. Kalau kita mau melihat sejarah ke belakang, bisa kita dapati banyak orang-orang sukses dan ulama kita yang tidak begitu peduli dengan masalah cinta, melainkan ia tetap fokuskan pada tujuan akademik dan menuntut ilmunya sehingga banyak diantara mereka yang menunda nikah dan berkeluarga. Imam Ahmad bin Hanbal misalnya beliau menikah di usianya yang terbilang tidak muda lagi. ketika umurnya 40 tahun beliau baru memberanikan diri untuk meminang seorang wanita yang dicintainya, bahkan diantara para ulama itu saking besar kecintaannya pada ilmu dan mengedepankan cita-cita mereka untuk mengabdi dan memberikan kontribusi pada ilmu dan islam mereka rela untuk tidak menikah alias membujang seperti Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari, Imam Nawawi dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. Jadi kalau kita berkaca pada orang-orang hebat yang telah disebutkan diatas maka poinnya adalah tidak mungkin bisa maju secara bersamaan antara cita-cita dan cinta karena itu harus ada yang dikorbankan.

            Berbeda halnya dengan madzhab orang-orang yang berkeyakinan bahwa bisa diselaraskan dan dibuat balance antara cinta dan cita-cita. dengan hadirnya cinta itu dapat memberikan motivasi, setruman dan energi positif tersendiri sehingga membantu untuk terealisasikannya visi, misi, dan cita-cita yang ia targetkan. tidak lagi mesti menunda perkara cinta dan melangsungkan pernikahan bagi orang-orang yang menganut pendapat seperti ini, karena justru dengan seperti itu ia akan mendapatkan semua kebahagiaan dan apa yang diinginkannya dapat direalisasikan. sejarah juga banyak berbicara tentang orang-orang yang mengambil jalan ini. berani untuk menikah, mendapatkan cinta orang yang disayanginya dan dengannya cita-cita dapat terwujudkan.

            Nabi Muhammad SAW contonya, panutan bagi semua umat manusia, nabi penebar cinta dan kasih sayang serta utusan dzat yang maha rahman. beliau yang memiliki amanat, visi, misi yang begitu besar, yakni membawa risalah kenabian untuk disampaikan kepada seluruh umat manusia di muka bumi ini, memutuskan untuk meminang sang istri ibunda Khadijah di usianya yang relatif muda yaitu 25, lantas dengan kematangan sang istri, Siti Khadijah selalu ada menemani dan memberikan masukan bagi baginda Rasul di setiap saat, terutama kala keadaan sangat denting dan krusial. Bisa kita lihat apa yang dilakukan Ibunda Siti Khadijah semasa rasul menyendiri di gua Hira, beliau yang mengantarkan perbekalan makanan, dan selalu menjaganya baik dalam keadaan terjaga maupun dalam do’a. hingga pada saat rasul mendapatkan wahyu pertamanya, Ibunda Khadijah adalah orang yang pertama kali menenangkan rasulullah saw ketika sedang dalam keadaan panik seteleh malaikat Jibril datang dalam wujud aslinya dan mengabarkan hal tersebut kepada sepupunya Waraqah bin Naufal yang mengetahui ilmu tentang kitab (taurat dan injil). Bisa kita bayangkan akan seperti apa jika tidak ada perempuan hebat seperti Ibunda Khadijah yang benar-benar telah membantu Rasulullah dalam mengemban amanatnya dan mewujudkan apa yang dicita-citakannya.

            Selanjutnya adalah Thaha Husein, seorang tokoh pembaharu mesir yang penglihatannya hilang sejak usianya 6 tahun, meskipun demikian beliau tidak pernah patah semangat, bahkan ia menyabet gelar pendidikan S3 untuk ke-2 kalinya di Sorbonne Prancis dengan disertasinya mengenai Abul ‘Ala Al-Ma’arry. Tokoh yang namanya melambung di timur tengah ini bahkan mendapatkan julukan ‘amiid al-adab al arabi  (dean sastra arab) sebuah gelar yang hanya disematkan kepadanya. bukan hanya itu ia juga memberanikan diri untuk meminang wanita berkebangsaan prancis yang bernama Susan, yang mana berkat peranan Susan yang senentiasa terus mendampingi dan membacakan kata demi kata dan setiap kalimat yang ia lihat dalam kitab karena Thaha Husein yang sudah kehilangan penglihatannya sejak kecil, walhasil berkat peranan sang Istri dan kecintaannya kita bisa melihat hasil yang nyata dari semua kontribusi yang telah diberikan oleh Thoha dengan menamatkan S3 nya di Perancis dan menduduki beberapa posisi penting di pemerintahan pada masa itu.

            Kisah selanjutnya yaitu datang dari tokoh nusantara, bapak dirgantara Indonesia, dan eyang yang banyak memberikan motivasi cinta. semua masyarakat Indonesia sudah tidak asing lagi mendengar namanya, beliau adalah Bachruddin Jusuf Habibi atau yang akrab disapa dengan sebutan pak Habibi. Ada banyak kisah cinta di balik segudang perjuangan pak Habibi bersama ibu Ainun, sampai-sampai kisahnya diangkat ke layar lebar. Romantisme kehidupan antara  keduanya sering kali menjadi inspirasi bagi para pemuda dan pemudi. Iya, penulis sendiri ter-brain wash setelah membaca kisah perjuangan dan cintanya pak Habibi dan ibu Ainun terutama semasa perjuangannya di Jerman/. dan sudah tidak dipungkiri lagi zaman yang berdekatan dengan kita menjadikan possibility seperti apa yang dialami oleh pak Habibi dan ibu Ainun bisa terjadi juga kepada kita. Kisah cinta yang begitu panjang sudah diarungin oleh keduanya, 7 tahun berpisah saling berjauhan yang kemudian disatukan kembali dalam sebuah ikatan yang dinantikan dan merajut kembali cinta antara keduanya dengan penuh pengorbanan dan perjuangan di negeri yang terkenal akan teknologinya itu. semuanya sudah mengetahui andil yang begitu besar telah dilakukan ibu Ainun dalam menemani setiap masa yang dijalaninya dari semua perjuangan pak Habibi. seandainya saja tidak ada cinta dari seorang istri yang setia untuk pak Habibi, maka apa jadinya semua tantangan berat yang hanya bisa dilalui oleh orang-orang yang memiliki pendamping hidup yang hebat.

            Melihat semua kisah singkat dan perumpamaan di atas mengingatkan kembali kepada kita akan urgensi dalam mencapai target, tujuan, dan pencapaian dalam hidup ini. memberikan kontribusi nyata dan manfaat bagi banyak orang serta meraih cinta dan kasih sayang serta kebahagiaan dari orang-orang yang kita cintai. Permasalahan cita-cita itu dapat diselaraskan dan jalan bersamaan dengan cinta (menikah) itu hanya persoalan yang bisa diselesaikan dan kembali kepada individu masing-masing, karena hanya kita sendiri yang mengetahui mana yang baik bagi kita dan mana yang lebih baik. kapan kita siap untuk menjalankannya secara bersamaan dan kapan kita belum mampu untuk menanggung salah satu diantara keduanya. Maksimalkan semua yang ada di depan mata kemudia serahkan semuanya dan tawakkalkan pada sang maha pemberi kebaikan, maka bagaimanapun jadinya pasti itu yang terbaik bagi kita. So ga usah dipermasalahkan lagi yah antara prioritas kedua hal itu, karena cita-cita dan cinta yang selalu saja menjadi perkara yang membuat dilema.

Perang Salib, Media Transformasi Peradaban Islam ke Barat

crusade_by_airarty-d50x3rc

Banyak peristiwa penting yang tercatat dalam sejarah, yang mana setelahnya memberikan dampak yang begitu besar bagi dunia barat maupun timur. Mulai dari ekspansi militer Islam ke Spanyol melalui negara Maroko dengan menyebrangi selat Gibraltar, disusul dengan pengiriman pasukan militer Islam di Tunisia ke pulau Sisilia di Italia, hingga jatuhnya Konstantinopel atau yang akrab disapa dengan sebutan Istanbul pada saat ini dari tangan kaum Nashrani kepada penguasa muslim pada zaman dinasti Usmaniah di Turki. Semua kejadian itu menjadikan sebuah batu loncatan bagi negara barat tersendiri untuk melakukan perubahan dan mendapatkan progress yang baik sehingga bisa melebihi kaum muslimin yang telah mengalahkannya pada beberapa abad kebelakang.

Diantara sejarah penting yang terkadang kita lupakan, padahal kejadian itu memiliki urgensi dalam mentransformasikan nilai-nilai serta budaya Islam ke negara barat adalah Perang Salib. Iya, Perang Salib yang pada puncaknya berkecamuk pada tahun 583 Hijriyah dibawah pimpinan komandan perang Sholahuddin Al-Ayyubi. kita tidak akan membahas secara terperinci mengenai bagaimana gejolak perang salib yang melibatkan blok barat dan blok timur, mulai dari penghujung abad ke 5 pada tahun 488 Hijriyah hingga tahun 690 yang terus berkelanjutan hingga lebih dari 2 abad, namun kita akan sedikit berbicara tentang bagaimana berpindahnya beberapa kebiasaan, adat, nilai-nilai serta budaya Islam ke Eropa yang mana menjadi citra baik bagi agama Islam sebagai agama yang rahmatan lil alamin.

Setidaknya ada hal yang perlu kita luruskan mengenai penyebab terjadinya perang Salib yang telah lama menjadi stigma negatif dalam benak kita bahwa perang itu adalah buah dari konflik agama antara Islam dan Kristen dengan alasan ingin membebaskan kembali baitul maqdis dari kaum muslimin setelah ditaklukkan oleh Umar bin Khattab pada masa khilafatu rasyidah. Hal itu tidak benar adanya, karena beberapa fakta dan kebenaran data yang disembunyikan seolah-olah penyebab terjadinya peristiwa yang itu adalah faktor agama, padahal kenyataannya ada beberapa misi yang telah dilancarkan oleh kaum Nashrani yang kala itu gereja mendominasi di barat dari penguasa lainnya di sektor politik (pemerintah).

Ada 3 Faktor yang menjadi landasar Perang Salib diantaranya : faktor agama, faktor politik dan faktor sosial.

  1. Faktor Agama: hal ini dikarenan gereja katolik di Vatikan Roma dibawah pimpinan Paus Urban II kerena ingin menguasai kembali apa yang yang telah menjadi bagian dari mereka sebelum datangnya kejayaan Islam dan merebut Baitul Maqdis di Yerussalam Palestina dari kekuatan Islam yang telah menempatinya sejak pembebasannya di zaman Umar bin Khattab.
  1. Faktor Politik: masih ada keterkaitannya dengan poin yang pertama, namun dengan piawainya para pendeta yang menguasai gereja dengan menghasud para anak raja dari thobaqoh nubala (anak raja yang tidak memiliki otoritas kekuasaan dan harta warisan) karena hak waris di barat hanya dapat diturunkan kepada anak pertama saja, tidak ada hukum waris yang menerapkan keadilan seperti dalam ajaran agama Islam. Maka kesempatan ini dipergunakan oleh para pendeta untuk menghimpun kekuatan militer dan melancarkan ekspansinya ke baitul maqdis, supaya mereka memiliki tanah yang akan dijadikan tempat kekuasaannya.
  1. Faktor Sosial: krisis pangan dan kemiskinan yang menjadi polemik besar pada saat itu mendorong untuk berangkatnya segerombolan orang barat yang ingin menguasai tanah Syam yang sangat subur dan memiliki banyak tumbuh-tumbuhan mulai dari buah, sayur hingga hewan ternak sangat mudah untuk melakukan perkembang biakan, karena tempat yang strategis untuk menanggulangi krisis pangan dan bencana kemiskinan maka para pendeta di gereja barat merekomendasikan untuk merebut kembali tanah syam yang telah menjadi bagian dari dunia dan kekuatan Islam.

 

Selama kurang lebih 2 abad lamanya pasukan militer barat menduduki beberapa titik untuk dijadikan pangkalan. ada 4 tempat yang menjadi markas militer bangsa barat di daerah kekuasaan Islam seperti: Arruha, Anatokiya, Tripoli dan Baitul Maqdis. Dan selama itu pula kekuatan Islam memberikan perlawanannya mulai dari zaman Imadduddin Zanki, Nuruddin Mahmud Zanki, Shalahuddin Al-Ayyubi dan Sultan Mamalik di Mesir. Dengan perantara perang yang terus menerus berkelanjutan maka budaya Islam juga terus di-transfer oleh para tentara-tentara muslim yang di tawan oleh tentara barat, ataupun tentara barat yang ditawan oleh sekelompok tentara muslim.

Mereka (para tentara muslim) selalu berbicara tentang ajaran Islam yang luhur, cinta kedamaian, dan benar-benar menghormati serta bertoleransi kepada manusia yang berbeda ajaran agamanya sehingga para tentara barat yang pernah ditawan oleh tentara Islam ketika pulang kembali ke negaranya membawa kabar dan berita damai yang menceritakan ajaran agama Islam yang sangat luhur dan adil, sehingga pada waktu itu pula para pembesar-pembesar gereja merasa kaget atas apa yang telah dilakukan oleh umat Islam dalam memperlakukan tawanannya, maka dari sini orang-orang barat memulai kajian Orientalisme atau Kajian timur tengah dengan fokus pada pembelajaran akidah, adat istiadat, sejarah, geografi, dan peradaban timur. meskipun demikian semua hal itu bukan karena ketertarikan mereka lantas mereka mempelajari Islam dan kajian timur tengah untuk memberikan kontribusi positif bagi Islam, melainkan untuk mencari celah kelemahan dan syubhat yang ada pada agama Islam yang kemudian mereka tuliskan dalam karya-karya mereka untuk melemahkan generasi muda Islam yang masih labil dan mudah kagum terhadap sains yang dimiliki oleh bangsa barat.

Sedangkan beberapa contoh peradaban Islam yang sudah mulai masuk dan diaplikasikan oleh bangsa barat antara lain adalah:

  1. Bahasa: banyak kosakata yang merupakan serapan dari bahasa arab mulai digunakan di barat dalam percakapan sehari-harinya seperti bazaar, dinar, arsenal dan admiral.
  2. Berkembangnya seni dalam berperang, diantaranya orang barat baru mengenal banteng dalam peperangan sebagai media pelindung tempat yang dianggap krusial dan penggunaan baju perang berbasis tembaga yang dipakai oleh pasukan penunggang kuda, hal itu belum diketahui oleh barat sebelumnya.
  3. Penggunaan burung merpati untuk mengirim surat dari satu tempat ke tempat lainnya, yang kemudian dibuatkan banteng yang tinggi untuk disinggahi oleh burung tersebut dan menyimpan pesan surat yang dibawanya, penggunaan burung merpati ini baru dikenal oleh umat Islam pada zaman dinasti Abbasiyah.
  4. Penggunaan lencana (pangkat) di bahu yang biasa dikenakan oleh para panglima perang dan menandakan kedudukannya diantara pasukan militer.
  5. Pakaian adat umat Islam yang tersebar di barat seperti kain gamis, bahkan salah satu model yang sangat terkenal di barat bernama Dimasyqis yang berarti pakaian dari Damaskus.
  6. Sektor pertanian di timur tengah juga banyak yang mulai dilestarikan di barat seperti tumbuhan bernama Zanzabil dan
  7. Di bidang kesehatan juga negara barat mulai mengenal istilah Baimaristaniyat yang artinya tempat penyembuhan orang-orang sakit, yang mana sebelumnya bangsa barat masih menggunakan gereja sebagai sarana berobat namun setelah tercampuri dengan budaya timur maka mereka mulai mendirikan rumah sakit secara terpisah yang biasa kita kenal dengan sebutan.

Demikian ulasan singkat tentang Perang Salib yang menjadi media transformasi nilai-nilai dan budaya Islam ke barat. Semoga dengan tulisan ini kita tidak merasa kagum dengan peradaban barat dan Eropa yang sering kali kita mengira bahwa peradaban yang paling maju dan sempurna itu adalah peradaban barat, padahal kenyataannya mereka hanya mengembangkan apa yang mereka serap dan dapatkan dari peradaban Islam pernah masuk ke tanah barat.

NB: Disarikan dari lecture Dr. Abdurrahman Hammad, salah satu dosen fakultas Sejarah dan Peradaban Islam di International Islamic University of Islamabad

Pulau Sisilia, Jembatan Peradaban Islam ke Eropa

 

palermo21

Sering kali kita beranggapan bahwa kaum atau masyarakat yang memiliki peradaban dan banyak meninggalkan jejak pada abad modern ini adalah peradaban barat. setelah mengalamani masa pemisahan antara geraja dan ilmu pengetahuan lantas Eropa atau barat mengalami kemajuan yang sangat signifikan dalam ilmu sosial dan sains, sehingga acap kali kita memandang kagum dan sempurna atas segala sesuatu yang telah dibawakan oleh bangsa barat mulai dari teknologi, budaya bahkan pemahaman yang sekiranya tidak sesuai degan norma islam dan budaya nusantara sekalipun. stigma demikian harus kita hapuskan dari benak generasi umat Islam dan anak-anak kita, karena jikalau kita telah menuhankan barat dan mengindahkan semua yang dimilikinya dalam seluruh dimensi kehidupan maka kita akan memandang sebelah mata terhadap Islam, menganggapnya kolot, dan jauh dari peradaban yang maju.

Sekarang jika kita mau menggali sejarah, menelusuri fakta, data dan serta kebenaran yang telah terjadi beberapa abad ke belakang niscaya kita akan menemukan sebuat titik dan cahaya terang yang menerangi apa-apa disekelilingnya, memberikan keadilan di tengah kedzoliman, serta menjadi penengah diantara beberapa kaum dan peradaban yang saling berbenturan. Yaaa, Islam sudah sampai ke Eropa sejak abad pertama hijriyah atau abad ke 8 masehi. Melalui pengorbanan dan perjuangan para pejuang Islam yang gigih untuk terus mensyiarkan Islam, menebarkan kedamaian dan menegakkan kalimat tauhid di seluruh belahan dunia. Kita mengenal dua panglima perang yang sempat meluluhlantahkan bangsa romawi yang ada di barat mereka yaitu Thariq bin Ziyad dan Musa bin Nushair, ekspansi militer yang dibawa oleh mereka dibawah kekeisaran dinasti Umayyah pada tahun Sembilan puluhan lantas telah membuahkan hasil yang manis dengan takluknya dan terbukanya tanah Andalusia bagi umat Islam. namun banyak dari kita yang lupa akan pengorbanan seorang komandan perang yang juga telah menembuskan kekuatan militernyta dibawah panji Islam ke pulau Sisilia yang terletak di laut tengah menjadi pembatas antara Italia dan Tunisia, dia adalah panglima perang Asad ibn Furaat.

Pulau Sisilia yang pada saat itu tunduk dibawah kekuasaan Byzantium salah satu bangsa dengan julukan super power pada zamannya pada akhirnya bisa pindah ke tangan kekuasaan Islam dibawah dinasti Al Aghalibah di Tunisia dengan sultannya Ziyatullah Al-Aghlab setelah mengirimkan 10.000 bala tentara, 70 kapal laut yang telah menyobek jalan diantara laut tengah pada tahun 212 Hijriyah dibawah komando panglima perang Asad Ibn Furaat. diantara penyebab berangkatnya ekspansi militer muslim ke pulau Sisilia adalah karena bantuan yang diminta oleh para penduduk Sisilia setelah mengirimkan surat kepada Sultan Ziyatullah untuk menolongnya dari kedzoliman para bangsa barat dalam pengambilan kebijakan yang sering kali merugikan pihak penduduk disana.

Singkat kata setelah kemenangan direbut oleh pasukan Islam, maka daerah pemisah antara eropa dan afrika utara itupun menjadi damai, aman, tentram dan sejahtera. tak hanya menjadikan keadaan lebih baik dari sebelumnya dibawah bendera Islam, melainkan setelah datangnya Islam kesana maka perubahan yang lebih baik nampak dan kesejahteraan para warganya terlihat dengan dikembangkannya sektor pertanian, industri tenun, serta banyak berdirinya mesjid-mesjid sampai dikatakan oleh Ibnu Hauqol salah seorang penjelajah dari bangsa arab bahwasanya mesjid yang ada di kota Balermo yang merupakan ibu kota dari Sisilia mencapai 300 mesjid pada abad ke-4 hijriyah.

Namun masa kejayaan Islam di jazirah Sisilia hanya bertahan 2 abad lebih saja hingga tahun 483 Hijriyah setelah melemahnya kekuatan Islam yang disebabkan oleh banyak faktor dan salah satunya yaitu berpindahnya pusat kekuatan Islam di Afrika Utara dari Tunisia ke Cairo yang diteruskan oleh dinasti Fatimiyyah sehingga Jazirah Sisilia yang pada saat itu sedang diperebutkan oleh 3 kekuatan besar dunia yaitu Byzantuim Romawi, Kaum Muslimin dan Bangsa Normandion pada akhirnya kekuasaan tersebut berpindah ketangan Normandion bangsa Italia dari sekte katolik yang berbeda. meskipun demikian peradaban Islam masih tetap hidup di tatanan masyarakat Jazirah Sisilia, salah satu buktinya yaitu bahasa resmi yang dipakai disana menggunakan bahasa Arab hingga masa pemerintahan Normandion, sebagaimana managemen keuangan dan ekonomi yang masih berlaku setelah berpindahnya kekuasaan Islam, dari segi sastra Arab juga meninggalkan pengaruh besar bagi bangsa barat pada saat itu, salah satunya adalah Dante Alighieri yang dikenal dengan bapak sastra Italia abad pertengahan yang mendapatkan pengaruh banyak dari sastrawan Arab Abul ‘Ala Al-Mu’arri dari risalahnya yang bernama Al-Ghufron. Tidak ketinggalan dalam segi kesehatan orang-orang Muslim juga membangun sekolah kesehatan yang pertama di kota Balermo yang belum pernah ada sebelumnya. dan masih banyak contoh peradaban Islam lainnya yang telah dibawa oleh Islam yang kemudian diakulturasi kembali oleh orang-orang barat pada saat itu.

Maka kita harus berbangga dengan apa-apa yang telah dikerjakan oleh para pendahulu kita semasa kejayaan Islam dan berusaha semaksimal mungkin untuk mengembalikan kejayaan tersebut sehingga umat kita menjadi umat yang diperhitungkan dalam segala dimensi kehidupan.

 

 

 

Begini Semaraknya Peringatan HUT RI Ke – 71 di KBRI Islamabad

WhatsApp Image 2016-08-18 at 1.57.44 AM

Tak hanya di Indonesia saja kemeriahan hari ulang tahun Republik Indonesia  dapat di rasakan oleh masyarakatnya. jauh dari tanah air, sedang dalam perantauan dan berada di negeri orang bukan berarti rasa nasionalisme, bangga dan cinta terhadap tanah air harus hilang, namun seyogyanya di sana dapat lebih terasa kehangatan serta rasa persaudaraan yang disatukan oleh dua kata yaitu bangsa Indonesia tanpa adanya perbedaan.

17 Agustus menjadi salah satu moment yang pas bagi seluruh rakyat Indonesia untuk memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia serta mengenang arwah para pahlawan yang telah gugur memperjuangakan kemerdekaan bangsa ini dari tangan para penjajah. begitu pula kemeriahan HUT kemerdekaan RI yang ke-71 ini dapat dirasakan oleh para masyarakat dan mahasiswa di negara yang akrab dengan sapaan negeri Ali Jinnah Pakistan. Peringatan 17 Agustus di KBRI Islamabad tahun ini bisa dibilang berbeda dan lebih berkesan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, pasalnya pada peringatan HUT RI tahun ini berbagai rentetan acara baru banyak diselenggarakan. tak nya berbagai macam perlombaan sebagaimana menjadi agenda rutinnya, namun kali ini ada kegiatan yang sosial dan kemanusiaan seperti donor darah bekerja sama dengan Pakistan Red Crescent atau Palang Merah Pakistan juga menjadi salah satu kegitan penting dari sekian banyak kegiatan tujuh belasan.

Pada pelaksanaan upacaranya juga memang terasa tidak seperti biasanya, karena di penghujung upacara ditampilkan tim aubade yang membawakan 5 buah lagu nasional seperti, 17 agustus, dari Sabang sampai Merauke, Tanah Airku, Bangun Pemudi Pemuda dan Sorak Sorai. Nampaknya semua peserta merasa menghayati setiap lantunan syair yang dibawakan, seakan semuanya sedang berada di tanah air yang kemudian pada lagu yang terakhir dinyanyikan oleh seluruh peserta upacara dengan iringan tepuk tangan serta penuh rasa riang gembira. setelah upacara selesai dilaksanakan, di penghujung upacara diadakan juga penyerahan piagam pernghargaan bagi 5 mahasiswa/ mahasiswi yang berprestasi di bidang akademik, kelima orang itu adalah Annida Wardhani mahasiswi jurusan Bahasa Arab dan Wirna Hayati Mahasiswi jurusan Tafsir dan Ilmu Al-Qur’an pada jenjang S2 (Master) dengan meraih masing-masing IPK 4.00/ 4.00, Fahmi Wira Angkasa mahasiswa jurusan Syari’ah dan Hukum Islam pada jenjang S1 (Undergraduate) yang juga mendapatkan nilai 4.00/ 4.00, Mehtar Roydi Akbar Mahasiswa S2 di Comsats Institute of Technology jurusan Project Management meraih nilai 3.88/ 4.00 dan Ahmad Dzikri Alhikam mahasiswa tingkat 3 asal Garut yang belajar di jurusan Sejarah dan Peradaban Islam IIU-Islamabad Pakistan meraih IPK 3.81/ 4.00. dengan adanya pernghargaan yang diberikan langsung oleh bapak Duta Besar Indonesia untuk Pakistan, diharapkan agar setiap mahasiswa/ mahasiswi dapat menjadikannya motivasi dengan adanya penghargaan seperti ini khusunya di bidang akademik.

Tak lupa perlombaan khas tujuh belasan seperti lomba makan kerupuk, balap kelereng, balap karung, memasukkan paku ke dalam botol diadakan bagi seluruh anak-anak staff KBRI Islamabad dan para anak-anak WNI yang berdomisili di Islamabad. seluruh peserta begitu antusias dalam mengikuti perlombaan, kemudian di penghujung acara ditutup oleh sambutan dari Duta Besar Bapak Iwan Suyudhie Amri serta ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah ikut mensukseskan seluruh rentetan kegiatan  hingga semuanya berjalan lancar, disusul pembagian hadiah dan ramah tamah yang tak kalah juga menariknya. seluruh hidangan khas Nusantara menjadi favorit semua masyarakat Indonesia yang terbilang sangat jarang sekali bisa ditemukan di Pakistan seperti sate padang, bakso, nasi tumpeng, siomay dan masakan khas Indonesia lainnya.

3 Ulama Besar Yang Rela Membujang Demi Ilmu, No. 1 dan 3 Pasti Kamu Kaget!!!

hqdefault

Pernikahan dalam Islam merupakan salah satu ibadah yang dianjurkan, dimana banyak firman Allah, begitu juga sabda Rasulullah yang menjelaskan keutamaan dari ibadah ini seraya mentarghib para kaum adam yang sudah mencapai kematangan dalam bekal menuju pernikahan baik dari segi ilmu dan kesiapannya secara lahir batin. Bahkan menikah adalah fitrah manusia supaya dapat memiliki keturunan yang terus berkelanjutan dan memperbanyak umat nabi Muhammad SAW. Maka Allah SWT telah menjadikan pernikahan itu salah satu wasilah  atau perantara yang disyari’atkan bagi barang siapa yang takut dirinya akan terjerumus ke dalam zina yang diramkan oleh agama.

Akan tetapi tidak sedikit pula para ulama yang mengabdikan dirinya untuk menegakkan agama dan hukum Allah, berkhidmah kepada Allah dengan jihadnya melalui senjata dan pena, sehingga mereka memilih jalan untuk ber-tabattul atau tidak menikah semasa hidupnya karena kesibukannya berjihad, menuntut ilmu serta mengajarkannya kepada para orang awam. Pernah terbenak di pikiran saya sebuah pertanyaan. ulama yang sudah berkaliber tinggi masa mereka tidak tahu keutamaan dari menikah yang bahkan dikatakan salah satu cara menyempurnakan agama islam itu sendiri? ternyata jawabannya tidak semudah pertanyaan yang terlontar secara ringan dari mulut saya. memilih jalan untuk ber-tabattul memang pilihan hidup mereka dan pastinya dengan segudang alasan yang sangat rasional lantas mereka memilih jalan seperti itu, meskipun demikian mereka tidak menganjurkan kepada para muridnya untuk mengikuti jejak langkahnya yang memilih untuk tidak menikah karena mengabdikan jiwa raganya untuk agama tercinta. tetapi bisa jadi seandainya mereka tidak mengambil jalan seperti itu, mungkin kita tidak bisa menemui karya-karya para ulama besar yang fenomenal dan monumental yaitu kitab-kitab klasik yang sangat berharga yang masih bisa kita jumpai sekrang. dan hal demikian itu telah menjadi jalannya secara personal setelah menimbang-nimbang antara maslahat dan kebaikan-kebaikan dalam menikah dan dalam mencari ilmu. maka mereka lebih mengutamakan kebaikan yang berada dalam ilmu ketimbang dalam pernikahan. wallahu ‘alam

Setidaknya ada beberapa alasan yang bisa menjawab mengapa mereka ingin mengambil jalan tidak menikah semasa hidupnya. diantaranya adalah sebagai berikut:

  1. Ada hadits yang menerangkan dari Aswad bin Kholaf bahwasanya Nabi Muhammad SAW suatu hari menggendong Hasan bin Ali dan menciumnya kemudian berkata kepada sekumpulan orang di depannya: “sesungguhnya anak itu mabkholatun (tempat seseorang menjadi kikir), majhalatun (tempat seseorang menjadi bodoh), majbanatun (tempat seseorang menjadi tidak pemberani)”. riwayat Bazzar, kitab majma’ zawaid karya Imam Al-Haitsimi. Imam Az-Zamakhsyari mengomentarinya dalam kitabnya Al-Faiq juz 1 halaman 185 bahwasanya yang dimaksud yaitu: “dengan adanya anak maka menjadikan si bapaknya itu pelit dalam mengeluarkan hartanya karena mengumpul-kumpulkan untuk anaknya kelak, dalam kebodohan karena lebih banyak menyibukkan dirinya untuk anaknya ketimbang mencari ilmu, dan menjadi tidak berani karena takut akan anaknya terbunuh ”.
  1. Perkataan Umar bin Khattab R.A yang terdapat dalam kitab Shahihnya milik Imam Bukhari yaitu: “Tafaqqohu qobla an tusawwadu” di dalam kitab Al-Qomus at-tasawwud artinya at-tazawwuj atau menikah, kemudian Murtadlo Az-Zabidi dalam tajul ‘urusnya menjelaskan perkataan Umar bin Khattab, berkata Syamir: “arti perkataan tersebut adalah pelajarilah ilmu fiqh sebelum kalian menikah karena kalian akan sibuk mengurus rumah tangga kalian, sehingga lebih sibuk dengan urusan rumah tangga dari pada ilmu”. meskipun demikian ada sebagian para ulama yang menafsirkan kata at-tasawwud itu adalah ar-riasah atau kepemimpinan. maka diambil dari salah satu pendapat ulama dari perkataan Umar bin Khattab tidak diragukan lagi bahwa dengan menikah akan menyibukkan dirinya kepada urusan rumah tangga dari pada mencari ilmu.
  1. Al-Hafidz Al-Khatib Al-Baghdadi dalam kitabnya Al-Jami’ li akhlaqi rawi wa adabi as-sami’i berkata: bagi para penuntut ilmu seyogyanya untuk membujang sebisa mungkin, agar tidak terhenti mencari ilmunya dengan menyibukkan diri untuk memenuhi hak-hak dan kewajiban pernikahan dan mencari nafkah untuk keluarganya. dan masih banyak kisah-kisah lainnya yang memberikan saksi bahwasanya dengan menikah perkara menuntut ilmu dan beribadah menjadi lebih kendor jika dibandingkan masa lajangnya yang penuh dengan semangat yang kuat.

Maka disini dari sekian banyak ulama yang tidak menikah semasa hidupnya ada 3 ulama yang sangat besar dan tidak diragukan lagi kewara’an, ketawadlu’an serta pengetahuannya yang luas dalam berbagai disiplin ilmu, mereka adalah:

  1. Ibnu Jarir Ath-Thobari.

Al-Imam Almujtahid, Alhujjah, Almufassir, AlFaqiih, Al-ushuli, An-Naddzor, Al-Muqri, Al-Muarrikh, Al-Lughoqi, Al-‘Arudli, Al-Adiib, Ar-Rawi, As-Sya’ir, Al-Muhaqqiq, Al-Mudaqqiq. beliau dengan sederet gelar yang disandangnya yaitu Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Ath-Thobari dilahirkan di daerah yang bernama Thobaristan tahun 224 Hijriah, telah hafal Al-Qur’an di usianya yang sangat dini yaitu ketika berumur 7 tahun kemudian di usianya yang ke 9 beliau mulai menulis hadits dan ketika berumur 12 tahun orang tuaya baru mengizinkan untuk rihlah berpergian jauh untuk menuntut ilmu pada tahun 236. masuk ke kota Baghdad setelah wafatnya Imam Ahmad bin Hanbal tahun 241 H maka beliau tidak berjumpa dengannya. setelah itu berkeliling untuk bertemu dan menuntut ilmu kepada para ulama besar yang ada di daerah Khurasan, Iraq, Syam, Mesir yang kemudian lama menetap di Baghdad. di sana beliau banyak menghabiskan waktunya untuk mengabdi pada Islam. Al-Khotib Al-Baghdadi menceritakan biografinya dalam Tarikh Baghdad, Imam Thobari adalah salah satu ulama besar di zamannya, yang mana banyak dari perkara agama yang merujuk kepadanya. menguasai banyak disiplin ilmu yang tidak dimiliki oleh orang lain di zamannya, mengetahui berbagai macam qira’at Al-Quran, faham makna Al-Quran, menguasai hukum-hukum dalam Al-Qur’an, mengerti seluk beluk hadits dengan berbagai macam jalan yang berbeda dalam periwayatannya, yang shahih serta yang tidak shahihnya, menguasai sejarah dan lain sebagainya.

Beliau memiliki karya tafsir yang sangat masyhur yang sampai sekarang bisa kita jumpai dan yaitu kitab Jami’ul bayan ‘an wujuhi ta’wili ayi-l-Qur’an atau yang biasa kita dengan dengan sebutan tafsir ath-Thobari. kitab yang popular dikalangan para sejarawan Islam yaitu Tarikhu Ar-Rusul wal Anbiya wal Muluk wal Umam dan masih banyak lagi yang lainnya seperti kitab tahdzib, al-basith, ahkamul qira’at dan lain sebagainya.

Diriwayatkan dalam kitab kunuzul azdad tentang kisah hidup beliau yang mana tidak pernah menyia-nyiakan satu menitpun dalam hidupnya kecuali untuk hal yang bermanfaat atau memberikan manfaat kepada sesamanya. sampai dikatakan pada satu jam atau kurang sebelum ajal menjemputnya ketika beliau sakit beliau masih meminta pena dan lembaran kertas untuk menulis, kemudian bertanya kepadanya: “apakah dalam keadaan seperti ini engkau masih meminta kertas dan pena untuk menulis?” maka Imam Thobari berkata: “ seyogyanya manusia itu untuk menuntut ilmu, melahap semua ilmu sampai waktu ajal datang menjemput”. maka orang yang dimintai kertas dan penanya mendo’akannya: “mudah-mudahan Allah memberikan rahmat kepadamu yang telah mengorbankan setiap menit bahkan detikmu untuk ilmu, menyebarkannya serta menulisnya”. sehingga beliau menjadi contoh bagi yang lain semasa hidupnya dan setelah wafatnya.

beliau wafat pada bulan syawwal tahun 310 H tidak menikah dan  mempunyai istri dan anak akan tetapi meninggalkan ilmu, karya tulis dan karangan yang sangat berharga sehingga meski tidak memiliki keturunan beliau tetap abadi dan tidak hilang namanya dimakan zaman Rahimakallah ya syaikna …….

  1. Imam Nawawi.

Abu Zakariyya Muhyiddin Yahya Ibnu Syaraf An-Nawawi Ad-Dimasyqi beliau ulama syafi’i yang sudah tidak asing lagi di telinga kita selaku orang Indonesia. dilahirkan di desa yang bernama Nawa dekat selatan syiria yang dekat dengan damaskus pada tahun 631 Hijriyah. sedari kecil memang sudah menampakkan kejeniusannya dan memiliki hafalan yang cepat. pada tahun 649 beliau menuntut sampai di kota bekas peradaban bani umayyah yaitu di Damaskus , disana beliau hafal kitab tanbih dalam kurun waktu 4 bulan setengahdan seperempat dari kitab Al-Muhaddzab karangan Imam As-Syirazi di sisa tahunnya berguru kepada syeikh Kamal Ishaq bin Ahmad Al-Maghribi. kemudian pergi hagi bersama bapaknya dan menetap di Madinah selama 1 bulan setengah sepanjang itu beliau sering sakit-sakitan.

Muridnya yang setia Syeikh Abul Hasan bin ‘Ithor menyebutkan bahwa dalam sehari Imam Nawawi belajar 12 disiplin Ilmu dari fiqh, hadits, nahwu, shorf, ushul fiqh, ilmu rijal, ilmu hadits, dan aqidah. tak hanya berhenti sampai disana, setiap yang ditemuinya dari perkara yang membutuhkan penjelasan beliau jelaskan, yang masih rancu beliau mudahkan dan seperti itu lah kesehariannya selama menuntut ilmu di Damaskus.

Seluruh waktu nya beliau dedikasikan untuk mengajar, menulis, berbagi ilmu, beribadah, berpuasa, berdzikir dan hidup dalam kesederhanaan. tidak ada waktu yang beliau sia-siakan selama hidupnya pada siang dan malam kecuali untuk menyibukkan diri dengan hal-hal tadi sampai di sepanjang jalanpun beliau sebelum sampai ke tempat berlajarnya sering memuraja’ah pelajaran yang telah dipelajarinya. hal demikian berlangsung selama 6 tahun ketika beliau masih dalam masa menuntut ilmu.

Pada tahun 676 H beliau berziarah ke baitul maqdis sesampainya kembali ke Nawa beliau ditimpa penyakit dan ketika itu tinggal bersama orang tuanya hingga ajal datang menjemputnya. Pada bulan Rajab di tahun yang sama  beliau kembali ke pangkuan Rabbnya di usianya yang masih terbilang belum terlalu tua yaitu 45 tahun tidak menikah dan tidak meninggalkan keturunan setelahnya. Sungguh pengorbanan yang luar biasa meskipun demikian beliau telah meninggalkan berbagai macam karangan yang sangat bermanfaat dan terbilang banyak hingga dikatakan , jika lembaran-lembaran yang dituliskan oleh Imam Nawawi dikumpulkan niscaya akan lebih banyak apabila kita hitung dari pada hari yang beliau miliki semasa hidupnya. Semoga engkau bersama para anbiya dan orang-orang yang sholeh wahai imam ….

  1. Ibnu Taimiyyah.

Syaikhul Islam Taqiyuddin Abul Abbas ibnu Taimiyyah Al-harrani tsumma Dimasyqi. berbicara mengenai beliau kita pasti mengetahui cerita yang sangat panjang, tetapi kalau kita mau sedikit saja mengulas tentang kehidupannya cukup mengambil tulisan yang menceritakan bagaimana seluk beluk serta kehidupannya dari orang yang memang sezaman dan juga banyak bermu’amalah dengannya. salah satunya Al-Hafidz Adz-Dzahabi yang memang bertemu dengan syaikhul islam dan banyak menuliskan tentangnya. dikatakan beliau Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah lahir tahun 661 H dan wafat tahun 728 H. beliau wafat di usianya yang ke-67 dan meninggalkan karangan yang sangat banyak kurang lebih ada 500 karangan.

Semasa hidupnya beliau banyak mendapatkan cobaan dan ujian, sampai penjarakan di Mesir, Kairo, Alexandria juga di Damaskus dua kali. semasa perjalanan dakwahnya beliau berani berkata yang haq dan mematahkan yang bathil sehingga banyak orang-orang dari pemerintah yang kurang setuju dengan pemahamannya, juga dikatakan beliau sudah mulai memberikan fatwa ketika umurnya masih dibawah 19 tahun.

Buku-buku yang dikarangnya masih banyak yang bisa kita jumpai, dan itu dalam berbagai macam disiplin ilmu diantaranya yaitu: Muqoddimah fi Ushuli Tafsir  yaitu kitab yang menjadi banyak rujukan para mufassir setelahnya sampai sekarang, Al-Jawab Ash-Shahih liman badala dina Masih bisa kita jumpai khusunya yang mempelajari studi komparasi agama, disiplin ilmu tauhid beliau menulis Aqidah Al-Washitiyyah, Aqidah Tadmuriyyah dan lain sebagainya, Maj’mu Fatawa li Syaikhil Islam Ibnu Taimiyyah kitab yang banyak dirujuk dalam berbagai macam fatwa dan masih banyak lagi.

Adapun beberapa kitab yang menceritakan track record atau bagaimana perjalanan hidupnya Syaikhul Islam secara terpisah bisa kita jumpai diantaranya yaitu buku denga judul: Al-‘Alam al-‘Illiyyah fi Manaqibi Syaikhil Islam Ibni taimiyyah karangan Hafidz Abi Hafs Umar bin Ali Al-Bazzar yang juga masih satu zaman dengannya, ada juga Ad-Durroh Al-yatimiyyah fi-s-Sirati At-taimiyyah yang ditulis oleh Al-Hafidz Adz-Dzahabi, Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah wa Sirotuhu wa Akhbaruhu ‘inda-l- Mu’arrikhin karya  Dr. Sholahuddin Al-Munjid dan masih banyak juga literature klassik lainnya yang berbicara tentang kehidupan beliau.

Rasanya masih ingin banyak bercerita apalagi bagaimana perjalanan dakwah beliau dan bagaimana beliau menjalani masa-masa pendekatan diri kepada Allah serta lebih banyak mendalami dan mentadabburi Al-Qur’an dari dalam sel penjara. Dengan demikian perjuangan dan pengorbanan yang begitu besar telah beliau torehkan meskipun beliau tidak meninggalkan keturunan dan tidak menikah semasa hidupnya tapi banyak sekali pelajaran dan karya-karya Syaikhul Islam yang menjadi amal jariyah sepeninggalannya. Semoga Allah senantiasa menempatkanmu di tempat yang mulia wahai Syaikhul Islam …..

Itu 3 kisah diantara beberapa banyak para ulama yang rela mengabdikan dirinya untuk Allah dan Rasulnya, berjuang sepanjang masa sampai memilih jalan untuk tidak menikah semasa hidupnya, semua yang dilakukannya banyak memberikan kontribusi bagi umat islam khususnya. banyak pelajaran yang bisa kita petik dari sedikit kisah dan uraian diatas. semoga kita senantiasa mencontoh dan meneladani para salafu shalih.

 

Islamabad, 11 Agustus 2016

Central Library IIUI Pakistan

Metode Rasulullah SAW dalam Itsbat dan Nafyu sifatillah SWT prespektif Ibnu Taymiyyah

63

Ada 2 hal yang perlu digaris bawahi dalam memahami sifat-sifat Allah SWT sebagaimana yang disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah dalam karyanya Arrisalah At-Tadmuriyyah pada halaman ke 3 yaitu Allah SWT mengutus para rasulnya ke muka bumi ini dengan mengemban risalah tauhid yang mana dijelaskan secara gamblang dalam Al-Qur’an sebagai pelengkap dari kitab-kitab sebelumnya terlebih dalam hal sifat Allah SWT. sedangkan yang harus difahami dalam hal sifat-sifat Allah SWT, seluruh sifat yang ditetapkan oleh Allah Dzat yang serba maha dan disebutkan dalam Al-Qur’an juga dijelaskan oleh Rasul-Nya dalam hadits-hadits yang shahih adalah Itsbatul Mufasshol dan Nafyul Mujmal, yang artinya segala sifat-sifat wajib bagi Allah itu terperinci sebagaimana Al-Qur’an berbicara sami’ bashir maha mendengar dan maha melihat, ‘aliim qadiir maha mengetahui dan maha kuasa dan masih banyak lagi sifat-sifat Allah SWT bahkan yang belum kita ketahui, juga pastinya tidak terbatas hanya 99 saja (asmaul husna) sebagaimana yang dipaparkan dalam hadits, akan tetapi ghoiru mahsuur karena saking sempurnanya sifat yang Allah miliki Dzat yang serba maha. Adapun mujmal atau global dalam nafyu shifat yang artinya semua sifat-sifat yang tidak mungkin ada pada dzat yang maha kuasa dijelaskan dalam Al-Qur’an dalam bentuk global semisal firman Allah SWT: “Laysa kamitslihi syai’un” tidak ada sesuatu yang sama dengan-NYA. Maka secara otomatis firman tersebut memberikan faidah segala macam dan bentuk penyimpangan aqidah dari hal yang bertentangan dengan bab sifat yang khususnya sifat  mustahil bagi Allah segalanya masuk ke bawah ayat ini. contoh lainnya “Lam yalid wa lam yuulad wa lam yakun lahu kufuwan ahad” ayat ini juga berbicara tentang hal yang serupa yang diikuti dengan makna yang global, juga masih banyak ayat-ayat lain yang berbicara tentang nafyu shifat yang menjelaskannya secara global atau mujmal yang bertujuan sebagaimana yang telah disebutkan di atas.

Ayat-ayat yang tertera dalam Al-Qur’an yang mensifati Allah SWT secara lengkap tanpa kekurangan sedikitpun dan juga hadits-hadits shahih yang berbicara senada dengan hal itu akan terkumpul dalam 3 muntaha al-Kamal atau puncak kesempurnaa yaitu:

  1. Muntahal ‘Ilm yang artinya kesempurnaa dalam mengetahui (maha mengetahui)
  2. Muntahal Qurdah/ Kamalul Qurdah yaitu puncak kesempurnaan dalam berkuasa (maha kuasa)
  3. Muntahal Ghina, yang mana semua makhluqnya pasti membutuhkan Allah sedangkan Allah SWT Dzat yang maha sempurna dan tidak mungkin membutuhkan kepada hambanya sama sekali.

Maka seperti itulah cara Rasul dalam memahami sifat-sifat yang dimiliki oleh Allah SWT sebagaimana yang disampaikan oleh Ibnu Taymiyyah. Sedangkan segelintir orang yang hanyut dalam akal dan rasionya yang mana dalam menyikapi sifat-sifat yang dimiliki oleh Allah Dzat yang maha sempurna malah bertolak belakang dari manhaj yang telah diajarkan Rasul sebagaimana orang-orang kafir, musyrik, kaum shobiah, ahli filsafat, kaum jahmiyyah, qaramithah bathiniyyah. Mereka mensifati Allah dengan sifat-sifat yang negatif (kurang) secara terperinci dan tidak menetapkan bahwa sifat-sifat Allah itu sempurna kecuali wujudnya ada secara mutlak bahkan mereka beranggapan bahwa sesuatu yang didapatnya secara pendengaran (khabar) maka tidak mungkin tidak bisa ditemuinya secara kasat mata “innama yarji’u ila wujudin fil adhaani yamtani’u tahaqququhu fil a’yaan” maka perkataannya telah memasukkannya kedalam ta’thil atau menganggap tidak ada sifat-sifat yang wajib bagi Allah dan telah menyerupakan-NYA dengan mahluk-Nya.

 

 

 

bersambung ke minggu selanjutnya …..

Wallahu ‘alam …

Islamabad, Rabu 22 Syawwal 1437 H

 

Mengenal sosok Ibnu Taymiyyah lewat karyanya “Arrisalah at-Tadmuriyyah”

1

Siapa yang tak kenal ulama yang satu ini, seorang guru besar di zamannya yang dijuluki dengan berbagai macam istilah kehormatan seperti syeikul islam, allamah dan lain sebagainya. bahkan ada yang menyebutkan juga sebagai salah satu da’i dan tokoh pembaharu di tengah-tengah maraknya pemahaman-pemahaman tentang islam yang menyelisih pada saat itu, sehingga beliau juga dikategorikan sebagai salah satu orang yang memperbaharui pemahaman islam sebagai mana sabda Rasulullah yang mana akan ada pada setiap 100 tahun orang yang membawa panji Islam serta menjadi pioneer dan menyerukan untuk kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dalam beragama.

Berbagai macam buku dan karangan beliau tulis, dengan berbagai rintangan dan ujian dilaluinya sehingga beliau harus sering keluar masuk penjara demi mempertahankan akidahnya. alangkah indahnya perjuangan beliau dalam mengemban amanat sebagai salah satu pewaris para nabi. berbagai disiplin ilmu beliau tekuni hingga menguasai dan memperdalami banyak fann ilmu. para ulama setelahnya banyak yang menjadikan kitab-kitab karangannya sebagai rujukan dalam berfatwa dan beristinbath. dalam bidang tafsir kitab Muqaddimah fii Ushuli Tafsir menjadi rujukan dalam mengkodifikasikan poin-poin dalam menafsirkan Al-Qur’an, dalam kita bidang perbandingan agama kitab Al-Jawab as-Shohih liman baddala dinal masih juga manjadi referensi dalam metode mempelajari  perbandingan agama, begitu pula dalam disiplin ilmu lainnya dalam bidang tasawwuf, mantiq, dan lain sebagainya.

Ar-Risalah at-Tadmuriyyah adalah salah satu karangannya yang berfokus pada tauhid yang didalamnya menjelaskan secara gamblang yaitu manhaju ta’sil fil asma wa shifat  (asas dalam memahami sifat-sifat Allah beserta nama-nama-NYA). dinamakan Ar-Risalah at-Tadmuriyyah karena buku ini di karang di sebuah tempat yang bernama Tadmur di Syiria yang kira-kira 215 KM dari utara kota Damaskus dan 180 KM dari selatan sungai Eufrat. beliau menulis kitab ini karena urgensinya pada bab tauhid serta ada faktor yang mendoronya untuk membubuhkan tinta-tinta diatas kertas dari pada orang-orang yang meminta penjelasan darinya menganai hal ini, serta semakin maraknya syubhat yang tersebar di kalangan muslim pada saat itu tentang penanaman tauhid yang keluar dari tuntunan Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan memasukkan filasafat dan mantiq kedalamnya.

Secara garis besar pada halaman awal dari kitab ini Ibnu Taymiyah membahas bahawasanya asas dari Islam itu adalah dua hal dan semua hal yang terdapat dalam Islam akan bermuara pada dua hal yaitu Tauhid Rububiyyah dan Tauhid Uluhiyyah. Tauhid Rubibiyyah yang biasa dikenal dengan sebutan Tauhid khobari atau tauhid ilmi, serta tauhid uluhiyyah dengan sebutan lain tauhid ‘amali. dan juga pada permulaan kitab ini beliau mengklasifikasikan orang-orang yang ada pada zamannya ke dalam 3 kelompok yaitu:

  1. Ahlul Ilmi: mereka orang orang yang memperdalami ilmu agama, dari mulai Al-Qur’an As-Sunnah, fiqh, ilmu alat dan semua disiplin ilmu yang menjadi perantara untuk memahami 2 pondasi dalam Islam yaitu Qur’an dan Hadits
  2. Alhun Nazhor: yaitu mereka para mutakallimin yang sering terlibat dalam perdebatan dan perselisihan dalam perkara-perkara aqidah serta hal-hal yang terhimpun di bawahnya.
  3. Ahlul Irodah: orang-orang yang mengerjakan kebaikan dan lebih cenderung kepada meditasi dan ber’uzlah, serta memperbanyak diri untuk beribadah sebagaimana kebanyakan kaus sufi.

Kenapa disebutkan dalam Islam itu semua perkara akan bermuara pada dua hal tadi? karena perbincangan seputar tauhid dan sifat masuk ke dalam bab khabar yang mana hanya akan menemukan dua jawaban saja yaitu itsbat (meyakini ada) dan nafyi (meniadakan) oleh karenanya hal ini masuk ke dalam tauhid khobari atau tauhid rububiyyah, sedangkan perbincangan mengenai syari’at dan hal-hal yang terdapat dibawahnya dari perkara agama masuk ke dalam bab thalab (meminta dalam arti mengerjakannya dengan amal perbuatan). Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah juga menganalogikan hal ini layaknya bab kalam dalam ilmu nahwu yang terbagi kedalam dua yaitu khabar dan insya. khabar yang meliputi antara nafyun dan itsbat begitupun dengn insya yang meliputi amrun (perintah), nahyun (larangan) dan ibahah (kebolehan).

Pada halaman selanjutnya beliau berbicara tentang bagaimana manhaj (cara) dalam menyikapi sifat-sifat yang maha kuasa, setidaknya ada beberapa hal yang harus diperhatikan sebagaimana berikut:

  1. an yutsbita lillahi ma yajibu itsbatuhu lah min shifatil kamal yang artinya menetapkan dan meyakini bahwasanya bagi Allah sifat-sifat yang maha sempurna sebagaimana Allah tetapkan dalam Al-Qur’an.
  2. yunfi ‘anhu ma yajibu nafyuhu mimma yudhodu hadzihil haal, inti dari kalimat ini adalah meniadakan sifat yang mustahil bagi Allah yang bertentangan dengan keadaan tersebut.

atau dengan kata lain itsbat bila takyif wa tamtsil, nafyun min ghoiri tahrif wa ta’til. menetapkan sifat-sifat yang wajib bagi Allah tanpa membayangkan bagaimananya dan menyerupakannya dari dua sisi yaitu menyerupakan sifat manusia dengan Allah ataupun menyerupakan sifat Allah dengan manusia, kemudian meyakini sifat yang mustahil bagi Allah dengan tidak menganalogikannya dan menganggap tidak ada atau tidak mungkin Allah memiliki sifat tersebut.

bersambung ke minggu selanjutnya …..

Wallahu ‘alam …

Islamabad, Rabu 22 Syawwal 1437 H